Selama November, Harga Emas Ambrol 5%, Minyak Terbang 25% Lebih

02 Des 2020 - 14:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Bulan November menjadi bulan berkah bagi sebagian komoditas. Namun tidak bagi emas. Ketika harga kontrak futures minyak mentah, minyak sawit (CPO) dan batu bara mengalami kenaikan, harga emas justru longsor.

Pemicunya bermuara pada risk appetite investor yang pulih. Dalam satu bulan terakhir kabar positif pengembangan vaksin Covid-19 membuat pasar sumringah. Bagaimana tidak?

Tiga pengembang vaksin Covid-19 yaitu Pfizer-BioNTech, Moderna dan Kendati baru analisa awal data uji klinis tahap akhir, prospek menjanjikan ini membuat para pelaku pasar pun optimis.

Aset-aset minim risiko (safe haven) seperti emas pun tak kuasa dilego oleh para investor. Akhirnya harga emas langsung ambles. Sepanjang bulan lalu harga bullion di arena pasar spot turun 5,37%.

Di saat yang sama, harga-harga komoditas lain malah terbang. Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatif Exchange misalnya, kontrak minyak nabati yang teraktif ditransaksikan ini berhasil menguat 9,76%.

Bahkan harga CPO sempat tembus ke level tertinggi dalam delapan setengah tahun terakhir. Selain karena kabar vaksin, prospek pasokan yang ketat akibat La Nina hingga kekurangan tenaga kerja yang terjadi di Malaysia membuat harga komoditas unggulan Indonesia dan Malaysia ini tertekan ke atas.

Di pasar energi, harga kontrak futures batu bara dan minyak mentah kompak terangkat. Untuk kontrak futures batu bara termal Newcastle harganya naik 18,06% sepanjang bulan lalu, sementara untuk kontrak minyak mentah Brent dan WTI menguat lebih dari 25%.

Harga CPO dan batu bara berhasil menguat dan kembali ke level sebelum pandemi Covid-19. Meskipun harga minyak belum pulih ke level pra-pandemi tetapi berada di kisaran harga tertingginya sejak Maret lalu.

Perbaikan fundamental dari sisi permintaan yang meningkat dari pasar utama seperti India yang dibarengi dengan pemangkasan produksi oleh negara penghasil membuat harga batu bara terdongkrak.

Rencana para kartel minyak yang dikenal dengan sebutan OPEC+ untuk menunda peningkatan produksi sebesar 2 juta barel per hari (bph) mulai Januari nanti juga menambah tekanan ke atas terhadap harga minyak.

Tahun 2020 tinggal satu bulan, lantas bagaimana prospek harga komoditas sampai akhir tahun?

 

Emas

Sampai saat ini fundamental emas belum berubah. Dolar AS yang tertekan, imbal hasil riil obligasi pemerintah AS yang berada di teritori negatif, suku bunga acuan di negara maju berada di zero lower bound membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tak produktif seperti emas menjadi rendah.

Apabila tidak ada kabar baik dari vaksin yang menyusul dan perbincangan soal stimulus jumbo jilid II di Paman Sam mulai bergulir dan menemukan titik temu maka harga emas masih berpeluang untuk menarik.

 

Batu Bara

Tensi geopolitik Canberra-Beijing masih berlanjut. China disebut memboikot impor batu bara asal Australia. Di saat hubungan bilateral keduanya memanas, Indonesia justru diuntungkan karena China akan beralih mengambil pasokan batu bara termalnya dari Tanah Air.

Namun perbaikan permintaan batu bara bisa terganjal jika lonjakan kasus Covid-19 terus terjadi dan memicu lockdown. Para produsen akan semakin tertekan dan berupaya untuk memangkas produksinya. Melihat kondisi ini harga batu bara kemungkinan sampai akhir tahun akan sangat susah tembus ke level yang lebih tinggi dari US$ 75/ton.

 

Minyak Sawit Mentah (CPO)

Harga CPO sebenarnya sudah terbang tinggi. Sampai akhir tahun harga kemungkinan masih akan tetap bergerak di rentang RM 3.200 - RM 3.400 per ton. Skenario terburuknya adalah anjlok ke RM 3.000 - RM 3.200 per ton.

Katalis positif yang saat ini tersisa bagi harga CPO adalah pemangkasan bea masuk impor India sebesar 10 poin persentase dari 37,5% menjadi 27,5% yang bakal meningkatkan permintaan CPO ke India.

Faktor penahan kenaikan harga CPO adalah kebijakan Malaysia untuk tidak lagi membebaskan pajak ekspor maupun maraknya lockdown di Eropa yang tak kunjung dicabut.

 

Minyak Mentah

Pada dasarnya lockdown masih menjadi momok yang menakutkan untuk semua komoditas terutama komoditas energi yang berkaitan langsung dengan mobilitas sepeti minyak.

Kenaikan output minyak Libya menjadi 1,25 juta barel per hari (bph) dan mulai berproduksinya industri shale oil AS membuat OPEC mendapat tekanan kuat untuk tak menggenjot produksinya mulai awal tahun depan.

Namun sampai saat ini beredar kabar bahwa OPEC belum mencapai konsensus untuk menunda kenaikan produksi minyaknya. Pertemuan yang awalnya dijadwalkan berlangsung hari ini menjadi ditunda ke hari Kamis.

Apabila OPEC gagal mencapai kesepakatan dan justru terjadi perpecahan di internal organisasinya, maka harga minyak siap-siap untuk terpangkas lagi.

 

TIM RISET CNBC Indonesia

Source : CNBC Indonesia