Memanas di Akhir Tahun, Harga Rerata HBA 2020 Masih Terendah dalam 5 Tahun

07 Dec 2020 - 15:00

JAKARTA. Setelah sempat menyentuh level terendah dan merosot selama enam beruntun, Harga Batubara Acuan (HBA) merangkak naik dalam tiga bulan terakhir di tahun ini. Namun secara rerata tahunan, HBA 2020 jadi yang terendah sejak 2015.

Ditutup sebesar US$ 59,65 per ton untuk HBA Desember, rerata HBA untuk tahun 2020 ini hanya sebesar US$ 58,17 per ton.  Dalam catatan Kontan.co.id, rerata HBA tahun ini anjlok dibanding tahun lalu yang sebesar US$ 77,89 per ton. Apalagi jika dibandingkan tahun 2018 yang menyentuh level tertinggi yakni US$ 98,96 per ton.

Rerata HBA 2020 juga menjadi yang terendah sejak 2015 yang saat itu masih di level US$ 60 per ton. Sedangkan pada 2016 rerata HBA sebesar US$ 62 per ton dan 2017 mencapai level US$ 86 per ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyampaikan, penurunan harga komoditas dan indeks batubara pada tahun ini lebih disebabkan dampak pandemi.

"Itu mengakibatkan rendahnya demand akibat kebijakan lockdown, pembatasan di berbagai negara sementara dari sisi supply relatif masih stabil meskipun mengalami penurunan," kata Hendra, dihubungi Kontan.co.id, Jum'at (4/12).

Adapun kenaikan HBA di akhir 2020 tak lepas dari meningkatnya impor batubara dari China. Permintaan terdongkrak seiring dengan musim dingin dan mulai membaiknya demand industri setelah sempat terpuruk akibat pandemi covid-19.

"Seperti biasa, di kuartal IV, tren permintaan meningkat dan level harga saat ini mendekati harga di saat awal 2020 yang lalu," sambung Hendra.

Kendati begitu, Hendra belum bisa memastikan apakah tren kenaikan HBA di tiga bulan terakhir ini menandakan harga yang kembali rebound dan berlanjut pada tahun depan. Yang pasti, dia menegaskan bahwa kesepakatan (MoU) dengan China melalui China Coal Transportation and Distribution (CCTDA) akan memberi sentimen positif untuk 2021. "Harapannya akan meningkat terus," kata Hendra.

Seperti diketahui, pada pada Rabu (25/11) pekan lalu, Indonesia dan China melalui APBI dengan CCTDA meneken MoU pembelian batubara. Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengungkapkan, kesepakatan ini akan meningkatkan volume perdagangan. Harapannya, ekspor batubara Indonesia ke China tahun depan bisa menyentuh ke level 200 juta ton.

Merujuk pada data tahun lalu, China menjadi pasar paling dominan untuk ekspor batubara Indonesia dengan porsi 33% dari keseluruhan volume ekspor. Jumlahnya berada di level 140-an juta ton. Namun, untuk mencapai target ekspor 200 juta ton ke China pada tahun depan, hal itu masih akan tergantung pada kesepakatan masing-masing perusahaan secara Business to Business (B to B).

"Kita berharap menyentuh itu, tapi tidak otomatis 200 juta ton. Tentu nanti akan B to B, tergantung kontrak, pasar dan kebijakan kuota impor dari pemerintah Tiongkok," kata Hendra.

Adapun, kesepakatan tersebut berlaku dengan jangka waktu tiga tahun dengan kuantitas target yang dapat ditinjau setiap tahun. Dalam penandatangan MoU tersebut, hadir anggota APBI yang menjadi eksportir batubara ke China, yaitu Adaro, Bukit Asam, Kideco, Indo Tambangraya Megah, Multi Harapan Utama, Berau dan Toba Bara. Kesepakatan yang diraih bernilai US$ 1,46 miliar atau sekitar Rp 20,6 triliun.

Hendra menekankan, nilai riil dari ekspor tersebut akan bergantung pada harga pasar dan kesepakatan kontrak. Yang pasti, itu bukan lah nilai keseluhan ekspor batubara Indonesia ke China.

MoU tersebut juga memfasilitasi perusahaan lainnya, bahkan non member APBI untuk bisa meningkatkan ekspor batubara ke China. "Jadi MoU ini kan diplomasi, kita berkirim sinyal, nanti ujungnya ditindak lanjuti B to B. Kita memberikan sentimen psoitif, bahwa peluang pasar China masih terbuka," sebut Hendra.

Terkait harga batubara, Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Apollonius Andwie menilai, kenaikan HBA dalam 3 bulan beruntun menjadi sinyal positif bagi produsen batubara. Kata dia, kenaikan indeks harga merupakan hal yang dinantikan pelaku usaha sejak tren penurunan yang terjadi mulai April 2020.

"Tentu harapan kami ini menjadi sentimen positif untuk rebound pasar, seiring dengan pemulihan ekonomi yg terjadi saat ini. Untuk tahun 2021 kami masih optimis indeks harga akan terus membaik," kata Andwie ke Kontan.co.id, Kamis (3/12).

Senada, Direktur PT ABM Investama Tbk (ABMM) Adrian Erlangga juga melihat, prospek batubara untuk tahun depan akan lebih cerah. Bahkan, sentimen positif bisa berlanjut pada tahun 2022 seiring dengan penemuan vaksin yang akan mendorong pemulihan ekonomi pasca pandemi covid-19.

"Harga tahun 2020 rendah karena ada efek covid-19. Tapi secara fundamental kebutuhan batubara akan naik di regional," sebut Adrian.

Sedangkan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) masih wait and see sambil tetap meneruskan strategi bisnisnya. Head of Corporate Communication ADRO Febriati Nadira mengatakan, harga batubara sulit untuk diprediksi, sehingga pihaknya tetap mengedepankan keunggulan operasional untuk menjaga kinerja yang solid.

"Mengenai harga batu bara tidak bisa diprediksi. Yang dapat Adaro lakukan adalah terus menjalankan keunggulan operasional di seluruh mata rantai bisnis sehingga bisa menghasilkan kinerja operasional yang solid," terang Nadira.

HBA sendiri diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya. Kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal per kilogram GAR.

HBA menjadi acuan dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama bulan tersebut, pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

 

Source : Kontan