Kontraktor Jasa Pertambangan Masih "Wait and See" Menyikapi Peningkatan Ekspor Batubara

03 Dec 2020 - 14:01

JAKARTA. Kontraktor jasa pertambangan masih wait and see menyikapi kesepakatan dagang untuk meningkatkan ekspor batubara dari Indonesia ke China. Di tengah tekanan industri batubara seperti sekarang, pelaku usaha jasa pertambangan berharap bisa ikut mencuil cuan dari peluang tersebut.

Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) Bambang Tjahjono membeberkan, saat ini sektor jasa pertambangan terdampak pandemi covid-19 seiring dengan penurunan pasar secara global. Efek paling besar terasa pada kontraktor di tambang kecil dan kalori rendah.

"Pada tambang besar dan kontraktor besar, yang terasa berat adalah pengelolaan man power, karena harus melakukan lockdown. Tetapi rotasi pada akhirnya tetap harus dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan," sebut Bambang saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (2/12).

Adanya kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA) dengan CCTDA (China Coal Transportation and Distribution) untuk meningkatkan ekspor batubara thermal menjadi prospek positif untuk pemulihan industri pertambangan di tahun depan.

Kendati begitu, sentimen positif itu belum secara otomatis berdampak terhadap sektor jasa pertambangan. Pasalnya, masih ada sejumlah kondisi yang harus diamati Apalagi, komitmen antara APBI dan CCTDA masih berupa MoU yang  tergantung bagaimana kesepakatan lanjutannya.

Di luar MoU tersebut, Bambang menjelaskan bahwa ada faktor lain yang mesti diperhatikan, mulai dari faktor global hingga dalam negeri. Seperti relasi China dan Australia dalam perdagangan batubara, sentimen kebijakan Amerika Serikat pasca Pilpres, hingga pemulihan ekonomi global dan kebutuhan pasar terhadap energi.

"Jangan lupa, ini hanya MoU, masih bisa berubah. (Kontraktor jasa pertambangan) tergantung customernya. Peningkatan jangka pendek pasti terjadi terutama customer yang ekspor ke China. Tapi mungkin belum banyak menambah investasi karena banyak alat yang masih standby, yang bisa diaktifkan," terang Bambang.

Selain faktor global, prospek industri pertambangan tahun depan juga masih wait and see, menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) sebagai aturan turunan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 alias UU Minerba. "(Dampak positif MoU APBI-CCTDA) pasti, setidaknya untuk tahun 2021. Yang masih kami tunggu adalah PP sebagai turunan UU No. 3/2020," sambung Bambang.

Senada, Kepala Hubungan Investor PT Samindo Resources Tbk (MYOH) Ahmad Zaki Natsir berharap agar MoU peningkatan ekspor batubar ke China bisa membawa imbas positif terhadap kontraktor jasa pertambangan. Namun, MYOH masih wait and see peluang yang bisa diraih atas MoU tersebut.

"Kita kumpulkan semua informasi terkait batubara, lalu kita buat analisisnya. Kira-kira apa pengaruhnya ke industri baik secara uum atau khsuus. Harapannya pasti positif," kata Zaki.

Dihubungi terpisah, Corporate Secretary PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Mukson Arif Rosyidi menyambut lebih optimistis MoU APBI dan CCTDA tersebut. Menurutnya, kesepakatan ini bahkan telah direspon positif oleh pasar.

"Hal ini direspon dengan baik oleh pasar maupun pelaku pertambangan batubara setelah adanya pandemi yang ditandai terkontraksinya ekonomi di kuartal kedua dan ketiga 2020," ungkap Mukson.

Dengan begitu, DEWA optimistis peningkatan volume produksi di tahun 2021 lebih potensial dibanding tahun ini. Kondisi itu ditandai dengan adanya Production Request Notice (PRN) dari klien serta peluang akan diraihnya kontrak-kontrak baru, baik untuk jasa pertambangan batubara maupun non-batubara.

"Oleh karena itu, keikutsertaan Perseroan dalam berbagai tender penyediaan jasa pertambangan dirasa langkah yang tepat untuk dapat merealisasikan rencana produksi di 2021," ungkap Mukson.

Sebagai informasi pada Rabu (25/11) pekan lalu, Indonesia dan China melalui APBI dengan CCTDA meneken MoU pembelian batubara. Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengungkapkan, kesepakatan ini akan meningkatkan volume perdagangan. Harapannya, ekspor batubara Indonesia ke China tahun depan bisa menyentuh 200 juta ton.

Merujuk pada data tahun lalu, China menjadi pasar paling dominan untuk ekspor batubara Indonesia dengan porsi 33% dari keseluruhan volume ekspor. Jumlahnya berada di level 140-an juta ton. Namun, untuk mencapai target ekspor 200 juta ton ke China pada tahun depan, hal itu masih akan tergantung pada kesepakatan masing-masing perusahaan secara Business to Business (B to B).

"Kita berharap menyentuh itu, tapi tidak otomatis 200 juta ton. Tentu nanti akan B to B, tergantung kontrak, pasar dan kebijakan kuota impor dari pemerintah Tiongkok," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Rabu (2/12).

Adapun, kesepakatan tersebut berlaku dengan jangka waktu tiga tahun dengan kuantitas target yang dapat ditinjau setiap tahun. Dalam penandatangan MoU tersebut, hadir anggota APBI yang menjadi eksportir batubara ke China, yaitu Adaro, Bukit Asam, Kideco, Indo Tambangraya Megah, Multi Harapan Utama, Berau dan Toba Bara. Kesepakatan yang diraih bernilai US$ 1,46 miliar atau sekitar Rp 20,6 triliun.

Hendra menekankan, nilai riil dari ekspor tersebut akan bergantung pada harga pasar dan kesepakatan kontrak. Yang pasti, itu bukan lah nilai keseluhan ekspor batubara Indonesia ke China.

MoU tersebut juga memfasilitasi perusahaan lainnya, bahkan non member APBI untuk bisa meningkatkan ekspor batubara ke China. "Jadi MoU ini kan diplomasi, kita berkirim sinyal, nanti ujungnya ditindak lanjuti B to B. Kita memberikan sentimen psoitif, bahwa peluang pasar China masih terbuka," pungkas Hendra.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kepabeanan Tiongkok, total ekspor batubara Indonesia ke Tiongkok, khususnya untuk produk HS 2702, HS 2701 dan HS 2704 periode Januari – September 2020 mencapai US$ 4,9 miliar. Angka itu turun dibandingkan dengan total ekspor tahun 2019 dalam periode yang sama, sebesar US$ 5,8 miliar.

Source : Kontan